Wednesday, March 9, 2016

FIGUR PEMIMPIN UMMAT part I

Kitab suci Al-Qur'an yang 30 juz itu terdiri dari 114 surat, diawali surat Al Fatihah dan diakhiri surat An-Nas. Dri 114 surat itu ada yang ke 12, namanya "surat Yusuf" yang terdiri dari 111 ayat. Setelah menerangkan di ayat 1 dari 111 ayat itu bahwa ayat-ayat Al-Qur'an itu nyata-nyata dari Allah, dan di ayat 2 menerangkan bahwa Al-Qur'an diturunkan supaya dipahami, maka selanjutnya mulai ayat 3 sampai ayat 111 (ayat terakhir) sepenuhnya menerangkan bahwa Nabi Yusuf adalah sosok manusia yang pas, pantas dan tepat menjadi pemimpin ummat atau bangsa.

Nabi Yusuf sejak sebelum diangkat menjadi Nabi (sejak kecil) sudah mulai menerima dari Allah semacam ujian agar bisa diketahui kesabaran dan kejujurannya. Yusuf pernah dibuang oleh saudara-saudaranya, dimasukkan ke dalam sebuah sumur yang akhirnya disematkan oleh khalifah yang bermaksud menimba air sumur tersebut dan kemudian Yusuf dijual di Mesir. Dari sini kita bisa mengambil pengertian bahwa Yusuf memulai kehidupan duniawiyahnya berangkat dari nol, sebab tanpa modal harta, jauh dari orang tuanya, lagi tak disukai saudara-saudaranya yang dengan teganya mereka membuang Yusuf ke dalam sumur. Yusuf yang konon kisahnya adalah seorang lelaki yang berpenampilan simpatik, pintar, cekatan lagi berwajah ganteng, dia dijadikan sebagai anak angkat dari bangsawan Mesir yang membelinya itu. Ketika dia menjadi dewasa, konon Zulaikha, istri bangsawan yang memungut Yusuf sebagai anak angkat itu jatuh cinta kepada Yusuf. Dijelaskan oleh Allah dalam ayat 23 dari surat Yusuf itu, bahwa wanita (Zulaikha) itu pernah merayu dan mengajak Yusuf supaya berbuat mesum dengannya (dengan Zulaikha). Saat itu Yusuf berkata yang diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran kita semua :

مَعَاذَاللهِ اِنَّهُ رَبِّيْ اَحْسَنَ مَثْوَايَ اِنَّهُ لَايُفْلِحُ الظَّالِمُوْنَ (12 يوسف : 23)لا

Artinya : Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya tuanku (suami dari Zulaikha) telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zhalim tiada akan berbahagia. (Q.S. 12 Yusuf : 23)

Diayat ini tampak bahwa Yusuf mampu menjaga diri dari godaann wanita walaupun wanita itu berparas cantik dan berdarah biru / ningrat. Yusuf merasa bahwa majikan yang memungut dia menjadi anak angkatnya itu memperlakukan dirinya dengan perlakuan yang sebaik-baiknya, sedangkan Zulaikha yang jatuh cinta pada dirinya adalah istri dari majikan yang baik hati. lagi pula Yusuf tahu bahwa zina adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah. Yusuf sadar jika sampai dirinya jatuh cinta kepada istri majikannya, Zulaikha, ditambah berzina denganya walaupun dari kemauan Zulaikha sendiri, berarti dirinya (Yusuf) telah berbuat zhalim, sedangkan orang yang berbuat zhalim itu tidak akan berbahagia dalam hidupnya di dunia dan di akhirat. Yusuf lebih suka dan lebih memilih hidup tanpa berbuat zhalim. Demikian kesaksian Allah tehadap kejujuran Yusuf.

Ujian kesabaran dan kejujuran Yusuf datang lagi, yaitu fitnah dari wanita yang jatuh cinta kepadanya dan tidak dismbutnya itu, sehingga akhirnya Yusuf dijebloskan masuk ke dalam penjara selam 7 tahun. Selama di dalam penjara yusuf memperoleh banyak pengalaman, bahwa orang-orang yang di penjara itu adakalanya memang orang salah, tetapi ada juga masuk  ke dalam penjara tanpa adanya bukti-bukti salah melainkan karena semata-mata fitnah.
Setelah sekian lamanya Yusuf berada di dalam penjara, raja / penguasa tahu bahwa Yusuf yang berada di penjara itu bukan orang salah, dia orang yang baik, benar dan jujur lagi pintar, maka raja berkata sebagaimana kesaksian Al-Qur'an :

وَقَالَ الْمَلِكُ ائْتُوْنِى بِهِ اَسْتَخْلِصْهُ لِنَفْسِى فَلَمَّا كَلَّمَهُ قَالَ اِنَّكَ الْيَوْمَ لَدَيْنَا مَكِيْنٌ اَمِيْنٌ (12 يوسف : 54)لا

Artinya : Dan raja berkata : "Bawalah Yusuf kepadaku, agar aku memilih dia sebagai orang yang rapat kepadaku". Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengan dia, raja berkata : "Sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi orang yang berkedudukan tinggi lagi dipercaya pada sisi kami". (Q.S. 12 Yusuf : 54)

Maksudnya Yusuf diangkat oleh raja menjadi salah seorang yang ikut menangani tugas-tugas negara. Yusuf merasa bahwa dirinya bukanlah orang yang all round, yakni orang yang serba pintar, tetapi dia merasa insya Allah bisa menangani masalah perbendaharaan negara. Dari itu Yusuf berkata kepada raja yang ucapannya diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur'an sebagai berikut :

قَالَ اجْعَلْنِى عَلَى خَزَائِنِ الْاَرْضِ اِنِّى حَفِيْظٌ عَلِيْمٌ (12 يوسف : 55)لا

Artinya : Berkata Yusuf : "Jadikanlah aku bendaharawan negara Mesir, sesungguhnya aku ornag yang menjaga lagi berpengetahuan". (Q.S. 12 Yusuf : 55)

Dengan modal jujur, sabar dan pintar atau modal beriman dan berilmu, Yusuf diangkat untuk menangani bidang garapan negara yang mengantar rakyat Mesir hidup makmur dan sejahtera merata.

Thursday, February 25, 2016

IMAN MEMBAWA AMAN DAN ISLAM MEMBAWA DAMAI

Semua orang hidup selalu merindukan aman dan damai, tidak suka pada kekerasan, kekejaman, kesadisan, kesengsaraan dan kerusakan lainnya. Namun ada saja di sana-sini hal-hal yang tidak diinginkan itu muncul dimuka bumi kita ini, seperti perampokan, pembunuhan dan kesadisan-kesadisan lainnya persis seperti ketika dunia kekosongan rasul sepeninggalan Nabi Isa a.s. sampai menjelang datangnya Nabi Muhammad S.A.W. Pada saat itu sudah merajalela mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan, perampokan, pembunuhan dan lain sebagainya. Pada saat itu seolah-olah berlaku ketentuan "Siapa yang berkuku kuat, dialah yang menang dengan cengkeramannya". Mereka itu berbuat apa saja yang di kehendaki sehingga perbuatan mereka menimbulkan kecemburuan sosial yang pada gilirannya kebrutalan merajalela dimana-mana. Pada zaman kegelapan sosial kemasyarakatan seperti itulah maka Allah menurunkan Nabi utusan-Nya, yaitu Nabi Muhammad S.A.W. untuk memimpin ummat dan bangsa menuju hidup teratur, aman, damai dan tenteram teriring dengan tegaknya keadilan dan kemakmuran bagi ummat manusia. Firman Allah :

اللهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْايُخْرِ جُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَاالَّذِيْنَ كَفَرُوْا اَوْلِيَآؤُهُمْ الطَّا غُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِنَالنُّوْرِاِلَى الظُّلُمَاتِ اَولَئِكَ اَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (2 البقرة : 257)لا

Artinya : Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia (Allah) mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka ialah syaitan (perilaku jahat dari manusia dan jin), yang mengeluarkan mereka cahaya (iman) kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. 2 Al Baqoroh : 257)

Keterangan : Kejahatan, kebrutalan, kezhaliman, kesadisan dan lain sebagainya adlah kelakuan manusia yang dipimpin oleh thaghut. Kata "thaghut" yang jamaknya "thiwaghiet", artinya : berhala. Sedangkan berhala itu ialah segala sesuatu yang lebih dicintai sampai mengalahkan cintanya kepada Allah dan Rasulullah S.A.W. Nah, pusat berhala itu ada pada hawa nafsu setiap orang. Orang yang menurut saja kepada kemauan hawa nafsunya, maka orang itu telah bertuhan kepada hawa nafsu, dan tidak bertuhan kepada Allah. Firman Allah :

اَفَرَاَيْتَ مَنِ التَّخَذَ اِلَهَهُ هَوَاهُ؟ (45 الجاثيه : 23)لا

Artinya : Maka pernahkah kamu (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? (Q.S. 45 Al Jatsiyah : 23)

Padahal :

فَاعْلَمْ اَنَّهُ لَاالَهَ اِلَّااللهُ (47 محمد : 19)لا

Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tiada tidak ada Tuhan (yang wajib disembah/ditaati) melainkan Allah. (Q.S. 47 Muhammad : 19)

Maksudnya bahwa Tuhan yang wajib disembah/ditaati itu hanyalah Allah. Apa saja perintah Allah dikerjakan dan apa saja larangan Allah dijauhi.

Apabila doktrin "La Ilaha Illallah" itu telah menjiwai di hati dan lagi mantap, tidak ada ragu-ragu sedikitpun, maka akan muncul sifat yang konstruktip bagi orang yang bersangkutan. Orang itu suka berbuat yang baik-baik terhadap sesamanya dan terjaga lingkungannya. Hatinya merasa rugi dan merasa sis-sia hidup dengan mata terjaga tanpa ada perbuatan baik yang dilakukan. Sebab kesanalah ajaran "La Ilaha Illallah" membawa kepada kita. Hati merasa senang sekali apabila dapat ikut urun-urun bersama orang-orang saleh lainnya membangun dan memakmurkan dunia ini sebagaimana telah Allah amanatkan dengan Firman-Nya :

هُوَاَنْثَأَكُمْ مِنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا (11 هود : 61)لا

Artinya : Dia (Allah) telah menjadikan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya. (Q.S. 11 Hud : 61)

Diayat ini kita diberitahu bahwa kita dibuat dari bumi dan diperintahkan supaya membangun di bumi ini agar membuahkan kemakmuran bagi segenap penghuni bumi ini. Dan inilah ajaran "La Ilaha Illallah" membawa kita ke sana.

Akan menjadi lain apabila yang menjiwai kita itu "ilahahu hawahu" (tuhannya adalah hawa nafsu). Apabila tuhannya itu hawa nafsunya maka orang yang bersangkutan akan bersifat distruktip atau merusak. Mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan, perkelahian, perampokan, pembunuhan dan kezhaliman lainnya adalah akibat dari bertuhan kepada hawa nafsu. Firman Allah :

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوْالَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (30 الروم : 41)لا

Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan manusia, supaya Allah mencicipkan kepada mereka sebahagian (akibat) dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar / jalan Allah. (Q.S. 30 Ar Rum : 41)

Keterangan : Dengan firman-Nya ini, Allah memberikan petunjuk supaya dimengerti oleh setiap insan yang masih hidup dimuka bumi ini, bahwa kehancuran di darat, di laut sampai pencemaran udara, semuanya itu adalah timbul dari akibat ulah tangan manusia yang bertuhan kepada hawa nafsu. Barangkali orang yang berbuat rusak itu adakalanya dari kebodohan terhadap aturan Allah lantaran memang hatinya tidak terisi ajaran agama Allah melainkan hanya otaknya yang dipenuhi dengan isi ilmu pengetahuan keduniaan semata. Tetapi mungkin juga salah arah, yakni niatan hatinya tidak segaris dengan ulahnya. Niatan hatinya bagus tetapi tidak dibarengi dengan ikhtiar yang bagus, sehingga hasilnya justru merusak, dan bukan membangun.

Sunday, February 21, 2016

RASULULLAH MENCINTAI TANAH AIRNYA

Orang beriman yang mencintai tanah airnya, dia telah mengikuti sebahagian dari sunnah Rasulullah S.A.W. karena beliau sangat mencintai kepada tanah airnya sebagaimana kita pahami dari riwayat berikut ini :

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ عَنْ اَبِى سَلَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَدِيِّ بْنِ حَمْرَاءَ الزُّهْرِيِّ قَالَ : رَاَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاقِفًا عَلَى الْحَزْوَرَةِ فَقَالَ : وَاللهِ اِنَّكِ لَخَيْرُ اَرْضِ اللهِ وَاَحَبَّ اَرْضِ اللهِ اِلى اللهِ وَلَوْلَا اَنِّي اُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ. (رواه الترمذي ك الجزء الخا مس ص679 برس 11-8 باب في فضل مكة)لا

Artinya : Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uwail dari Az Zuhri dari Abi Salamah dari 'Abdillah bin 'Ady bin Hamrok Az Zuhri, dia berkata : aku melihat Rasulullah S.A.W. berdiri diatas Hazwaroh (anak bukit) yang kecil seraya bersabda : "Demi Allah sesungguhnya engkau (wahai Makkah) adalah bumi Allah yang paling cantik dan bumi yang tercinta disisi Allah. Andaikan aku tidak dilahirkan darimu (wahai Makkah), pastilah aku tidak lahir di dunia ini. (H.R. Turmudzi : juz 5, halaman 679, pada baris 8-11 dari atas, dalam "Babu fadhli Makkata").

Keterangan : Untaian kalimat dari sabda Nabi tersebut di atas adalah menggambarkan betapa besarnya rasa cinta hati Rasulullah S.A.W. terhadap tanah airnya, Makkah. Dari cintanya terhadap tanah airnya beliau menyatakan dengan kalimat : "engkau adalah bumi Allah yang paling cantik dan bumi yang tercinta disisi Allah". Beliau katakan seolah-olah beliau tidak akan lahir di dunia ini tanpa adanya bumi yang paling dicintainya dan lagi tercinta disisi Allah.

Dengan riwayat tersebut di atas itu, Rasulullah S.A.W. memberikan teladan kepada segenap orang beriman termasuk yang berada di bumi Indonesia ini supaya mencintai tanah airnya sehingga Indonesia ini adalah bumi yang paling dicintainya. Dalam kisah cinta ada ungkapan yang mengatakan :

مَنْ اَحَبَّ شَيْئًا فَهُوَ عَبْدُهُ

Artinya : Barangsiapa mencintai sesuatu, maka ia menjadi hambanya.

Ungkapan ini memang benar juga adanya sebagaimana kita lihat dan bahkan dialami oleh setiap insan remaja yang sedang dimabuk cinta terhadap insan remaja, dia disuruh apa saja oleh yang lagi dicintai pasti akan dia kerjakan juga walaupun beresiko.

Orang yang sedang bercinta akan selalu berbuat yang menyenangkan terhadap yang dicintainya itu. Ia berbuat sangat berhati-hati sekali terhadap yang dicintai itu agar perbuatannya tidak menjadikan sebab rusaknya cinta.

Demikian halnya anak bangsa harus cinta kepada tanh air bangsa itu sebagaimana telah Rasulullah S.A.W. contohkan dalam hadistnya tersebut di atas. Sebagai bukti cinta tanah air, maka anak bangsa harus berusaha memakmurkan tanah airnya dengan menegakkan pembangunan dan diprioritaskan yang menjadi kebutuhan pokok bagi anak bangsa itu sendiri terlebih dahulu. Allah berfirman : 

هُوَ اَنْشَأَكُمْ مِنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا (11 هود : 61)لا

Artinya : Dia (Allah) telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya. (Q.S. 11 Hud : 61).

Apabila area bumi yang ada dalam ayat tersebut di atas itu kita perkecil menjadi bumi Indonesia misalnya, maka pengertian ayat itu sebagai berikut : Kamu bangsa Indonesia diciptakan Allah mendiami bumi Indonesia, maka kamu harus membangun di bumi Indonesia sehingga bangsa Indonesia ini bisa menikmati hidup makmur yang digali dari buminya bangsanya sendiri. Disamping ikhtisar lahiriah dengan membangun pisik materialnya, maka jangan dilupakan berdoa kepada Allah agar bangsa Indonesia yang tercinta ini dapat merasakan hidup damai, aman, tenteram, adil dan makmur yang diridhoi Allah. Selanjutnya sabda Nabi : 

اللَّهُمَّ بَارِكْ لِاَهْلِ الْمَدِيْنَةِ فِى مَدِيْنَتِهِمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِى صَاعِهِمْ وَبَارِكْ لَهُمْ فِى مُدِّهِمْ (رواه احمد : المجلد الاول ص 183 بارس 30-29)لا 

Artinya : Ya Allah berkahilah bagi penduduk Madinah di Madinah (negeri) mereka, dan berkahilah bagi penduduk Madinah baranag yang ditakar oleh mereka, dan berkahilah bagi penduduk Madinah barang yang ditimbang oleh mereka. (H.R. Ahmad : jilid 1, halaman 183, pada baris 29-30 dari atas).

Keterangan : Nabi mohon kepada Allah agar hatinya cinta kepada Madinah tempat beliau hijrah dan mohon mampu membangun pisik material dan mental spiritual sehingga dapat menjadikan penduduk Madinah hidup makmur, aman dan tenteram.

Thursday, February 18, 2016

NADZAR TIDAK MERUBAH TAQDIR


Nadzar ialah mewajibkan diri melakukan sesuatu yang tidak wajib. Atau nadzar ialah janji terhadap dirinya sendiri. Orang yang melakukan suatu nadzar punya anggapan bahwa sesuatu yang diinginkan akan segera tercapai apabila disertai dengan nadzar. Misalnya : apabila terkabul cita-citaku, aku akan sodaqoh kepada 40 fakir-miskin dan akan memberikan infaq di Kuliah Subuh, sebanyak Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah). Inilah contoh nadzar.

Ketahuilah bahwa nadzar itu tidak akan mempercepat datangnya sesuatu yang diinginkan dan juga tidak memperlambat atau membatalkan datangnya sesuatu yang diinginkan. Sebab nadzar itu tidak merubah taqdir Allah. Marilah kita perhatikan petunjuk Rasulullah S.A.W. dalam riwayat berikut ini :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُبْنُ يَحْيَ حَدَّثَنَا يَزِيْدُبْنُ حَكِيْمٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ دِيْنَارٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ : اَلنَّذَرُ لَا يُقَدِّمُ شَيْئًا وَلَايُؤَخِّرُهُوَاِنَّمَا يُسْتَحْرَجُ  بِهِ مِنَ الْبَخِيْلِ (رواه مسلم : الجزء الثانى ص 17 بارس 7-5 باب النهى عن النذر وانه لايرد شينا)لا

Artinya : Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Hakim, dari Sufyan, dari Abdillah bin Dinar, dari Ibnu Umar, dari Nabi S.A.W. beliau bersabda : "Nadzar itu tidak mempercepat datangnya sesuatu dan tidak memperlambatnya, dan sesungguhnya dikeluarkan (dibayarkan) sesuatu dengan nadzar itu hanya dari orang cetil". (H.R. Muslim : juz 2, halaman 17, pada baris 5-7 dari atas, dalam "Babun nahyi 'anin nadzari...").

Sabda Nabi tersebut diatas tidak saja menerangkan bahwa nadzar itu tidak akan mempercepat atau memperlambat datangnya sesuatu, melainkan juga menerangkan bahwa nadzar itu tidak akan merubah takdir Allah. Dengan demikian orang tidak perlu bernadzar. Namun apabila seseorang sudah mengemukakan nadzarnya, maka nadzar itu wajib ditunaikan hukumnya, kecuali nadzar untuk berbuat maksiat atau nadzar untuk melakukan sesuatu perbuatan yang bernilai bid'ah adalah tidak boleh dikerjakan. rasulullah S.A.W. bersabda :

لَاوَفَاءَ لِنَذْرٍ فِى مَعْصِيَةٍ وَلَافِيْمَا لَايَمْلِكُ الْعَبْدُ (رواه مسلم : الجزء الثانى ص 17 بارس 15 باب لاوفاء لنذر فى معصية الله وفيما لايملك العبد)لا

Artinya : Tidak boleh mengerjakan nadzar dalam berbuat maksiat dan tidak boleh juga nadzar dan mengerjakan yang tidak dapat dicapai manusia. (H.R. Muslim : juz 2, halaman 18, pada baris 15 dari atas, dalam "Babu la wafa-a linadzrin...").


Riwayat selanjutnya menuturkan sebagai berikut :

وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيْدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيْزِ يَعْنِى الدَّارَوَرْدِى عَنِ الْعَلَاءِ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لَاتَنْذَرُوْا فَاِنَّ النَّذَرَ لَا يُغْنِى الْقَدَرِ شَيْئًا وَاِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيْلِ (زواه مسلم : الجزء الثانى ص 17 بارس 15-13 باب النهي عن النذر وانه لا يردشيئا)لا

Artinya : Dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'ied, telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz, yakni Ad darowardi, dari Al 'Alak dari bapaknya dari Nabi S.A.W. bersabda : "Janganlah kamu nadzar, karena sesungguhnya nadzar itu tidak akan mengalahkan taqdir sedikitpun, dan sesunggguhnya dikeluarkan (dibayarkan) sesuatu dengan nadzar hanyalah dari orang cetil". (H.R. Muslim : juz 2, halaman 17, pada baris 13-15 dari atas, dalam "Babun nahyi 'anin nadzari wainnahu yaruddu syaian")


Keterangan : Dalam riwayat tersebut ada kata-kata "La tandzru" (janganlah kamu nadzar), ini menunjukkan bahwa bernadzar itu tidak perlu dilakukan dan alasannya sudah Nabi jelaskan "sesungguhnya nadzar itu tidak akan mengalahkan taqdir".

Riwayat selanjutnya: 

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّمَ اَنَّهُ هَىَ عَنِ النَّذَرِ وَقَالَ : اِنَّهُ لَايَأّْتِى بِخَيْرٍ وَاِنَمَّا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيْلِ (رواه مسلم : الجزء الثانى ص 17 بارس 10-9 باب النهي عن النذرو انه لا يردشيئا)لا

Artinya : Dari Ibnu Umar dari Nabi S.A.W. bahwasanya beliau melarang bernadzar itu dan beliau bersabda : "Sesungguhnya nadzar itu tidak mendatangkan kebaikan, dan sesungguhnya dikeluarkan (dibayarkan) sesuatu dengan nadzar itu hanya dari orang cetil". (H.R. Muslim : juz 2, halaman 17, baris 9-10 dari atas).


Dari riwayat ini sahabat Ibnu Umar menerangkan bahwa Nabi melarang bernadzar dan Nabi menegaskan bahwa nadzar itu tidak akan mendatangkan kebaikan dan ditegaskan juga bahwa sesuatu yang dikeluarkan dengan nadzar itu hanyalah dari orang yang kikir saja. jadi dia tidak akan mengeluarkan sodaqoh, zakat ataupun infaq apabila dia tidak karena nadzar.

Demikian penjelasan langsung dari Rasulullah S.A.W. tentang nadzar itu dan marilah kita perhatikan baik-baik supaya amal kita tidak sia-sia.

Wednesday, February 17, 2016

COBAAN SEKADAR IMAN ORANG YANG DICOBA


Semua manusia yang hidup di dunia ini tidak diberikan begitu saja tanpa diberikan cobaan atau ujian dari Allah, melainkan mareka pasti Allah berikan cobaan hidup di dunia ini, lebih-lebih orang yang beriman agar kelihatan imannya tulen atau palsu. (Intisari Q.S. 29 Al 'Ankabut: 2)

Dari manusia di seluruh dunia ini, manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian manusia yang semisal dengan nabi dalam ketebalan imannya, lantas manusia yang semisal dengan mereka dalam ketebalan imannya, dan seterusnya, dan seterusnya. hal ini kita fahami dari riwayat berikut ini :

حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ حَدَّثَنِى اَبِى حَدَّثَنَا عَفَّانُ ثَنَا حَمَادُبْنُ زَيْدٍثَنَا عَاصِمُ بْنُ هْدَلَةَ حَدَّثَنِى مَصْعَبُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ قُلْتُ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ النَّاسِ اَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ فَقَالَ : اَلْاَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْاَمْثَلُ فَالْاَمْثَلُ الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ فَاِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْبًا اِشْتَدَّ بَلَائُهُ وَاِنْ كَانَ فِى دِيْنِهِ رِقَّةً اُبْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ. (رواه احمد : الجزء الاول ص185 بارس 6-4).لا

Artinya : Telah menceritakan kepada kami 'Abdulloh, telah menceritakan kepadaku bapakku, telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hamad bin Zaed, telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Bahdalah, telah menceritakan kepadaku Mushab bin Sa'ad dari bapaknya, dia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W. : Manusia mana yang lebih berat cobaannya? Kata bapak Sa'ad, maka Rasulullah S.A.W. menjawab : "Para nabi, kemudian yang semisal, lantas yang semisal. Manusia dicoba seimbang dengan tebal tipisnya agamanya (imannya). Apabila manusia kuat agamanya (tebal imannya), maka sangat besar cobaannya, dan apabila dia tipis agamanya, dia dicoba seimbang dengan tebal tipisnya agamanya". (H.R. Ahmad di dalam Kitab Musnadnya : jilid I, halaman 185, pada baris 4-6 dari atas).

Dengan Firman Allah dalam Q.S. 29 Al 'Ankabut, ayat 2-3 dan riwayat ini maka jelas sekali bahwa tidak ada manusia hidup di dunia ini dibiarkan bebas oleh Allah dengan lenggang kangkung tanpa dicoba dan diuji oleh Allah, melainkan semua manusia tidak pandang Nabi, Rasul, orang saleh, orang salah, 'Ulama dan awamnya tanpa pandang latar belakang sosialnya, mereka semua tidak terlepas dari cobaan atau ujian yang diberikan oleh Allah kepadanya. Inilah petunjuk Allah dan Rasulullah S.A.W. kepada orang yang suka ngaji sehingga dia siap menata hati menghadapi apa yang akan dan sedang terjadi.

Ketahuilah bahwasanya cobaan Allah kepada hambanya itu bukan berujud hal-hal yang buruk-buruk, yang menyedihkan dan menyusahkan seperti sulit mencari pekerjaan, duwit tidak punya, perutnya lapar, badan sakit-sakitan saja, anak-anak mbalelo, hatinya takut mengamalkan dan menyampaikan yang benar, dan lain sebagainya. Akan tetapi ternya menurut petunjuk Allah, bahwa kebaikan, kemulyaan, kesenangan adlah merupakan cobaan juga dari Allah sebagaiman Firman-Nya :

وَنَبْلُوْكُمْ بِاالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً (21 الانبيا : 35)لا

Artinya : Dan kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. (Q.S. Al Anbiya: 35).

Keterangan : Firman Allah ini menegaskan bahwa yang namanya cobaan itu bukan hanya buruk-buruk saja, melainkan cobaan ini berujud kebaikan-kebaikan juga. Dengan memperhatikan petunjuk Allah ini dapat kita tari pengertian bahwa orang belum masuk dalam kelas hidup sukses ketika dia baru punya kesehatan, punya pekerjaan yang mapan, dan punya uang banyak, manakala kebaikan yang dipunyainya itu belum dimanfaatkan dijalan Allah seperti untuk beramal saleh yang banyak dalam rangka menegakkan agama Allah. Apalagi orang punya banyak duwit hanya dihitung-hitung saja tanpa peduli amal saleh dengan mengeluarkan sebagian dari duwitnya itu adalah justru dia orang yang celaka disisi Allah (Sari tilawah Q.S. 104 Al Humazah: 1-4).

Orang-orang terdahulu sebelum kita seperti para utusan Allah dan orang-orang yang beriman kepadanya, meraka digoncang dengan silih bergantinya cobaan, dengan penjelasan dari Allah bahwa sorga Allah itu harus dibeli dengan iman dan amal saleh yang banyak menggunakan tenaga, pikiran dan harta. Firman Allah :

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ وَلَمَّايَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوْا حَتَّى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ اَلَا اِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيْبٌ (البقرة: 214)لا

Artinya : Apakah kamu sudah mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncang (dengan silih bergantinya cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman kepadanya : "Kapankah pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.S. 2 Al Baqoroh: 214).

Dengan ayat ini jelas sekali bahwa untuk mendapat anugrah Allah yang bernama sorga itu ternyata tidak semudah orang menduga, bahwa membaca ini sekian kali masuk sorga, membaca itu sekian kali masuk sorga. Ternyata Allah dengan Firman-Nya menunjukkan bahwa para rasul dan orang-orang yang beriman berjuang dengan keras dalam beramal saleh dengan goncangan cobaan yang silih berganti.

Monday, February 15, 2016

JANGAN KAGET TIADA MUKMIN TANPA UJIAN


Allah sudah memberikan kabar-Nya kepada kita bahwa Allah pasti akan memberikan beraneka ragam ujian kepada semua hamba-Nya, tak terkecuali kepada hamba-Nya yang beriman. Ujian kepada orang yang beriman agar diketahui apakah imannya tulen atau palsu. Marilah kita renungkan Firman Allah berikut ini dengan sungguh-sungguh :

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُتْرَكُوْا اَنْ يَقُوْلُوْا آمَنَّا وَهُمْ لَايُفْتَنُوْنَ؟(29 العنكبوت: 2)لا

Artinya : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan : "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? (Q.S. 29 Al 'Ankabut: 2).

Maksud ringkasan Firman Allah ini menjelaskan kepada kita semua bahwa orang yang sudah beriman pun tidak terlepas dari menerima ujian dari Allah. Artinya bahwa semua orang beriman pasti diuji keimannya oleh Allah. Ayat berikutnya : 

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِيْنَ (29 العنكبوت: 3)لا

Artinya : Dan sesungguhnya Kami (Allah) telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang dusta. (Q.S. 29 Al 'Ankabut: 3).

Maksud ringkasannya bahwa ujian Allah yang ditimpakan kepada orang-orang beriman itu agar tampak tulen atau palsunya iman orang yang bersangkutan.

MACAM-MACAM UJIAN DARI ALLAH

Macam-macamlah atau beraneka ragamlah ujian dari Allah kepada semua hamba-Nya sebagaimana Firman-Nya berikut ini :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِيْنَ (2 البقرة: 155)لا

Artinya : Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu, dengan sedikit ketakutan, kepalaran, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Q.S. 2 Al Baqoroh: 155).

Keterangan : Dengan Firman-Nya ini kita bisa menghitung sendiri diantara macam-macam cobaan Allah yang ditimpakan kepada hamba-Nya. Ada kalanya ketakutan, ada kalanya kelaparan, ada kalanya kekurangan harta / melarat, ada kalanya sakit-sakitan (lelaranen), dan ada kalanya paceklik dimana buah tidak ada, baik itu buah dari pohon ataupun itu buah dari perkawinan yang sudah lama.

Kepada siapa saja yang sabar dalam menerima cobaan itu, maka bergembiralah yang akan Allah anugrahkan kepadanya. Artinya, habis gelap terbitlah terang. Habis gelap terbitlah terang ini juga merupakan kesimpulan dari Firman Allah yang berbunyi :

اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (93 الم نشرح: 6)لا

Artinya : Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Q.S. 94 Alam Nasyrah: 6).

Maksudnya ialah agar manusia itu tahu bahwa kemudahan atau kelapangan itu akan didapat sesudah bersusah payah usaha dahulu. Hal ini dapat kita fahami juga dari kandungan Firman Allah berikut ini :

اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (1 الفاتحة:5)لا

Artinya : Hanya kepada Engkaulah kami menyembah (ta'at beribadah), dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. (Q.S. 1 Al Fatihah: 5).

Diayat ini dapat kita lihat, bahwa ternyata setelah menyembah Allah, yakni setelah tunduk dan taat kepada Allah dikerjakan, maka barulah kemudian memohon pertolongan dan anugrah Allah, yakni bekerja dulu barulah diminta upahnya.

Cobaan yang lain lagi sudah Allah terangkan juga dengan Firman-Nya :

وَاعْلَمُوْا اَنَّمَا اَمْوَالُكُمْ وَاَولَادُكُمْ فِتْنَةٌ (28 الانفال: 8)لا

Artinya : Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan ujian. (Q.S. 28 Al Anfal: 8).

Kaya harta adalah cobaan atau ujian dari Allah bagi pemiliknya. Untuk apa anugrah harta yang telah Allah berikan kepadanya? Apabila harta itu hanya disimpan dan dihitung-hitung, atau digunakan untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan amal akherat, melainkan harta dunia hanya untuk dunia saja, maka si pemilik harta itu tidak lulus diuji oleh Allah dengan harta. Kelak menyesallah dia selamanya. (Q.S. 23 Al Mukminum: 99-100, dan Q.S. 104 Al Lumazah: 1-6).

Apabila harta dunia yang Allah anugrahkan kepada seseorang lantas harta itu dia manfaatkan sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, seperti untuk keperluan sederhana rumah tangganya, untuk infaq dijalan Allah, zakat dan lain sebagainya, maka dia lulus diuji oleh Allah dengan hartanya.

Faqir harta adalah cobaan atau ujian dari Allah. Allah akan melihat kepada orang yang diujinya itu dalam usaha mendapatkan harta dunia yang ia perlukan. Jika dunia yang dicari itu dunia yang haram dan juga mencarinya dengan cara yang haram, maka dia tidak lulus dari ujian Allah. Apabila orang yang diuji dengan faqir harta itu tetap mencari harta yang halal dan dengan cara yang halal, berarti dia lulus ujiannya dari Allah lewat kekurangan harta itu.

Demikian pula anak dipasang oleh Allah kepada kita sebagai ujian. Tidak sedikit orang tua berduka cita lantaran anak, dan juga bergembira ria lantaran anak. Awas!

Sunday, February 14, 2016

MALU DAN IMAN ADALAH SATU PERSENYAWAN


Nabi bersabda :

اَلْحَيَاءُ وَ اْلاِمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَاِذَارُفِعَ اَحَدُ هُمَا رُفِعَ اْلاَخَرُ (الجلمع الصغير: 1/153)ر

Artinya : Malu dan iman adalah satu persenyawaan. Apabila hilang salah satunya, maka hilang pula yang lain. (H.R. Abu Nu'aim dalam Al Hilyah, dan H.R. Al Hakim, dan H.R. Baihaqi dalam Syu'bil imani, Al Jami'ush shoghir: juz 1, halaman 153, baris 10-11 dari atas)

Oleh sebab malu dan iman adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sedangakan iman membawa mukmin kepada kebenaran mutlak yang datanganya dari Allah, maka malu akan menjadikan mukmin tidak suka dan takut melanggar apa saja yang dilarang oleh Allah. Maka tidak pada tempatnya malu berlaku jujur, malu menyambung tali persaudaraan yang sedang putus, malu ikut ngaji kuliah subuh jum'at pagi, malu sholat jama'ah di masjid dan lain sebagainya. Sebab jujur, menyambung tali persaudaraan, ngaji dan sholat jama'ah semuanya adalah merupakan pancaran iman atau buah dari iman yang dimiliki. Adalah pada tempatnya malu melanggar apa saja yang dilarang oleh Allah, seperti malu berdusta, malu jotaan atau memotong tali persaudaraan, malu tidak ngaji, malu memperbincangkan keburukan orang lain dan lain sebagainya. Nah disinilah tempat malu itu berada. Apabila malu hilang, maka imanpun hilang menyusulnya sebab tidak dapat dipisahkan keduanya. Maka akibatnya akan menghilangkan kepercayaan orang lain karena dicabutnya amanat oleh Allah. Rasulullah bersabda : 

اِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ اِذَا اَرَادَاَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ اَلْحَيَاءَ فَاِذَانَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقُهُ اِلَّامَقِيْتًا فَاِذَالَمْ تَلْقُهُ اِلَّامَقِيْتًا مُمَقَّتًانُزِعَتْ مِنْهُ الْاَمَانَةُ فَاِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْاَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ اِلَّاخَائِنًا مُخَوَّنًا فَاِذَا لَمْ تَلْقَهُ اِلَّاخَائِنًامُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ فَاِذَانُزِعَتْ  مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ اِلَّارَجِيْمًامُلَعَّنًافَاِذَالَمْ تَلْقَهُ اِلَّارَجِيْمًامُلَعَّنًانُزِعَتْ مِنْهُرِبْقَةُ الْاِسْلَامِ  (رواهابن ماجه:2/515 باب ذهاب الايمان)ر

Artinya : Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung apabila Dia hendak membinasakan hamba-Nya Dia cabut dulu dari hamba itu rasa malu. Apabila telah dicabut darinya rasa malu, maka tidak akan diketemukan pada hamba itu melainkan benci-membenci. Apabila tidak dijumpai pada hamba selain benci-membenci, maka dicabut dari hamba itu amanat (tidak dapat dipercaya oleh Allah dan tidak dapat dipercaya oleh sesama ummat). Apabila sudah dicabut dari hamba itu amanat, maka tidak akan diketemukan pada hamba itu melainkan khianat-mengkhianati. Apabila tidak dijumpai pada hamba itu selain khianat-mengkhianati, maka dicabut dari hamba itu rahmat Allah (sehingga tidak punya rasa belas kasihan kepada orang lain). Apabila telah dicabut dari hamba itu rahmat, maka tidak akan dijumpai pada hamba itu selain laknat-melaknati. Apabila tidak dijumpai pada hamba itu selain laknat-melaknati, maka dicabut dari hamba itu ikatan islam. (H.R. Ibnu Majah : juz 2, halaman 515, nomor hadistnya 4054, baris 1-5 dari atas, dalam "Babu dzihabil imani").

Jadi apabila rasa malu itu hilang dari seseorang, maka dia akan berbuat semau nafsunya sehingga tidak jujur pasti ada padanya. Itulah sebab awal dari hilangnya amanat sehingga dia tidak dipercaya oleh Allah dan juga tidak dipercaya oleh sesamanya dan hilang ikatan islam.