Sunday, February 14, 2016

MALU DAN IMAN ADALAH SATU PERSENYAWAN


Nabi bersabda :

اَلْحَيَاءُ وَ اْلاِمَانُ قُرِنَا جَمِيْعًا فَاِذَارُفِعَ اَحَدُ هُمَا رُفِعَ اْلاَخَرُ (الجلمع الصغير: 1/153)ر

Artinya : Malu dan iman adalah satu persenyawaan. Apabila hilang salah satunya, maka hilang pula yang lain. (H.R. Abu Nu'aim dalam Al Hilyah, dan H.R. Al Hakim, dan H.R. Baihaqi dalam Syu'bil imani, Al Jami'ush shoghir: juz 1, halaman 153, baris 10-11 dari atas)

Oleh sebab malu dan iman adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain, sedangakan iman membawa mukmin kepada kebenaran mutlak yang datanganya dari Allah, maka malu akan menjadikan mukmin tidak suka dan takut melanggar apa saja yang dilarang oleh Allah. Maka tidak pada tempatnya malu berlaku jujur, malu menyambung tali persaudaraan yang sedang putus, malu ikut ngaji kuliah subuh jum'at pagi, malu sholat jama'ah di masjid dan lain sebagainya. Sebab jujur, menyambung tali persaudaraan, ngaji dan sholat jama'ah semuanya adalah merupakan pancaran iman atau buah dari iman yang dimiliki. Adalah pada tempatnya malu melanggar apa saja yang dilarang oleh Allah, seperti malu berdusta, malu jotaan atau memotong tali persaudaraan, malu tidak ngaji, malu memperbincangkan keburukan orang lain dan lain sebagainya. Nah disinilah tempat malu itu berada. Apabila malu hilang, maka imanpun hilang menyusulnya sebab tidak dapat dipisahkan keduanya. Maka akibatnya akan menghilangkan kepercayaan orang lain karena dicabutnya amanat oleh Allah. Rasulullah bersabda : 

اِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ اِذَا اَرَادَاَنْ يُهْلِكَ عَبْدًا نَزَعَ مِنْهُ اَلْحَيَاءَ فَاِذَانَزَعَ مِنْهُ الْحَيَاءَ لَمْ تَلْقُهُ اِلَّامَقِيْتًا فَاِذَالَمْ تَلْقُهُ اِلَّامَقِيْتًا مُمَقَّتًانُزِعَتْ مِنْهُ الْاَمَانَةُ فَاِذَا نُزِعَتْ مِنْهُ الْاَمَانَةُ لَمْ تَلْقَهُ اِلَّاخَائِنًا مُخَوَّنًا فَاِذَا لَمْ تَلْقَهُ اِلَّاخَائِنًامُخَوَّنًا نُزِعَتْ مِنْهُ الرَّحْمَةُ فَاِذَانُزِعَتْ  مِنْهُ الرَّحْمَةُ لَمْ تَلْقَهُ اِلَّارَجِيْمًامُلَعَّنًافَاِذَالَمْ تَلْقَهُ اِلَّارَجِيْمًامُلَعَّنًانُزِعَتْ مِنْهُرِبْقَةُ الْاِسْلَامِ  (رواهابن ماجه:2/515 باب ذهاب الايمان)ر

Artinya : Sesungguhnya Allah yang Maha Mulia dan Maha Agung apabila Dia hendak membinasakan hamba-Nya Dia cabut dulu dari hamba itu rasa malu. Apabila telah dicabut darinya rasa malu, maka tidak akan diketemukan pada hamba itu melainkan benci-membenci. Apabila tidak dijumpai pada hamba selain benci-membenci, maka dicabut dari hamba itu amanat (tidak dapat dipercaya oleh Allah dan tidak dapat dipercaya oleh sesama ummat). Apabila sudah dicabut dari hamba itu amanat, maka tidak akan diketemukan pada hamba itu melainkan khianat-mengkhianati. Apabila tidak dijumpai pada hamba itu selain khianat-mengkhianati, maka dicabut dari hamba itu rahmat Allah (sehingga tidak punya rasa belas kasihan kepada orang lain). Apabila telah dicabut dari hamba itu rahmat, maka tidak akan dijumpai pada hamba itu selain laknat-melaknati. Apabila tidak dijumpai pada hamba itu selain laknat-melaknati, maka dicabut dari hamba itu ikatan islam. (H.R. Ibnu Majah : juz 2, halaman 515, nomor hadistnya 4054, baris 1-5 dari atas, dalam "Babu dzihabil imani").

Jadi apabila rasa malu itu hilang dari seseorang, maka dia akan berbuat semau nafsunya sehingga tidak jujur pasti ada padanya. Itulah sebab awal dari hilangnya amanat sehingga dia tidak dipercaya oleh Allah dan juga tidak dipercaya oleh sesamanya dan hilang ikatan islam.

No comments:

Post a Comment