Dari manusia di seluruh dunia ini, manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian manusia yang semisal dengan nabi dalam ketebalan imannya, lantas manusia yang semisal dengan mereka dalam ketebalan imannya, dan seterusnya, dan seterusnya. hal ini kita fahami dari riwayat berikut ini :
حَدَّثَنَا عَبْدُاللهِ حَدَّثَنِى اَبِى حَدَّثَنَا عَفَّانُ ثَنَا حَمَادُبْنُ زَيْدٍثَنَا عَاصِمُ بْنُ هْدَلَةَ حَدَّثَنِى مَصْعَبُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ اَبِيْهِ قَالَ قُلْتُ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ النَّاسِ اَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ فَقَالَ : اَلْاَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْاَمْثَلُ فَالْاَمْثَلُ الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ فَاِنْ كَانَ دِيْنُهُ صُلْبًا اِشْتَدَّ بَلَائُهُ وَاِنْ كَانَ فِى دِيْنِهِ رِقَّةً اُبْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِيْنِهِ. (رواه احمد : الجزء الاول ص185 بارس 6-4).لا
Artinya : Telah menceritakan kepada kami 'Abdulloh, telah menceritakan kepadaku bapakku, telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hamad bin Zaed, telah menceritakan kepada kami 'Ashim bin Bahdalah, telah menceritakan kepadaku Mushab bin Sa'ad dari bapaknya, dia berkata : Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W. : Manusia mana yang lebih berat cobaannya? Kata bapak Sa'ad, maka Rasulullah S.A.W. menjawab : "Para nabi, kemudian yang semisal, lantas yang semisal. Manusia dicoba seimbang dengan tebal tipisnya agamanya (imannya). Apabila manusia kuat agamanya (tebal imannya), maka sangat besar cobaannya, dan apabila dia tipis agamanya, dia dicoba seimbang dengan tebal tipisnya agamanya". (H.R. Ahmad di dalam Kitab Musnadnya : jilid I, halaman 185, pada baris 4-6 dari atas).
Dengan Firman Allah dalam Q.S. 29 Al 'Ankabut, ayat 2-3 dan riwayat ini maka jelas sekali bahwa tidak ada manusia hidup di dunia ini dibiarkan bebas oleh Allah dengan lenggang kangkung tanpa dicoba dan diuji oleh Allah, melainkan semua manusia tidak pandang Nabi, Rasul, orang saleh, orang salah, 'Ulama dan awamnya tanpa pandang latar belakang sosialnya, mereka semua tidak terlepas dari cobaan atau ujian yang diberikan oleh Allah kepadanya. Inilah petunjuk Allah dan Rasulullah S.A.W. kepada orang yang suka ngaji sehingga dia siap menata hati menghadapi apa yang akan dan sedang terjadi.
Ketahuilah bahwasanya cobaan Allah kepada hambanya itu bukan berujud hal-hal yang buruk-buruk, yang menyedihkan dan menyusahkan seperti sulit mencari pekerjaan, duwit tidak punya, perutnya lapar, badan sakit-sakitan saja, anak-anak mbalelo, hatinya takut mengamalkan dan menyampaikan yang benar, dan lain sebagainya. Akan tetapi ternya menurut petunjuk Allah, bahwa kebaikan, kemulyaan, kesenangan adlah merupakan cobaan juga dari Allah sebagaiman Firman-Nya :
وَنَبْلُوْكُمْ بِاالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً (21 الانبيا : 35)لا
Artinya : Dan kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. (Q.S. Al Anbiya: 35).
Keterangan : Firman Allah ini menegaskan bahwa yang namanya cobaan itu bukan hanya buruk-buruk saja, melainkan cobaan ini berujud kebaikan-kebaikan juga. Dengan memperhatikan petunjuk Allah ini dapat kita tari pengertian bahwa orang belum masuk dalam kelas hidup sukses ketika dia baru punya kesehatan, punya pekerjaan yang mapan, dan punya uang banyak, manakala kebaikan yang dipunyainya itu belum dimanfaatkan dijalan Allah seperti untuk beramal saleh yang banyak dalam rangka menegakkan agama Allah. Apalagi orang punya banyak duwit hanya dihitung-hitung saja tanpa peduli amal saleh dengan mengeluarkan sebagian dari duwitnya itu adalah justru dia orang yang celaka disisi Allah (Sari tilawah Q.S. 104 Al Humazah: 1-4).
Orang-orang terdahulu sebelum kita seperti para utusan Allah dan orang-orang yang beriman kepadanya, meraka digoncang dengan silih bergantinya cobaan, dengan penjelasan dari Allah bahwa sorga Allah itu harus dibeli dengan iman dan amal saleh yang banyak menggunakan tenaga, pikiran dan harta. Firman Allah :
اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوْا الْجَنَّةَ وَلَمَّايَأْتِكُمْ مَثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوْا حَتَّى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ آمَنُوْا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ اَلَا اِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيْبٌ (البقرة: 214)لا
Artinya : Apakah kamu sudah mengira bahwa kamu akan masuk sorga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncang (dengan silih bergantinya cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman kepadanya : "Kapankah pertolongan Allah? Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Q.S. 2 Al Baqoroh: 214).
Dengan ayat ini jelas sekali bahwa untuk mendapat anugrah Allah yang bernama sorga itu ternyata tidak semudah orang menduga, bahwa membaca ini sekian kali masuk sorga, membaca itu sekian kali masuk sorga. Ternyata Allah dengan Firman-Nya menunjukkan bahwa para rasul dan orang-orang yang beriman berjuang dengan keras dalam beramal saleh dengan goncangan cobaan yang silih berganti.

No comments:
Post a Comment