Semua orang hidup selalu merindukan aman dan damai, tidak suka pada kekerasan, kekejaman, kesadisan, kesengsaraan dan kerusakan lainnya. Namun ada saja di sana-sini hal-hal yang tidak diinginkan itu muncul dimuka bumi kita ini, seperti perampokan, pembunuhan dan kesadisan-kesadisan lainnya persis seperti ketika dunia kekosongan rasul sepeninggalan Nabi Isa a.s. sampai menjelang datangnya Nabi Muhammad S.A.W. Pada saat itu sudah merajalela mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan, perampokan, pembunuhan dan lain sebagainya. Pada saat itu seolah-olah berlaku ketentuan "Siapa yang berkuku kuat, dialah yang menang dengan cengkeramannya". Mereka itu berbuat apa saja yang di kehendaki sehingga perbuatan mereka menimbulkan kecemburuan sosial yang pada gilirannya kebrutalan merajalela dimana-mana. Pada zaman kegelapan sosial kemasyarakatan seperti itulah maka Allah menurunkan Nabi utusan-Nya, yaitu Nabi Muhammad S.A.W. untuk memimpin ummat dan bangsa menuju hidup teratur, aman, damai dan tenteram teriring dengan tegaknya keadilan dan kemakmuran bagi ummat manusia. Firman Allah :
اللهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ آمَنُوْايُخْرِ جُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ اِلَى النُّوْرِ وَاالَّذِيْنَ كَفَرُوْا اَوْلِيَآؤُهُمْ الطَّا غُوْتُ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِنَالنُّوْرِاِلَى الظُّلُمَاتِ اَولَئِكَ اَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيْهَا خَالِدُوْنَ (2 البقرة : 257)لا
Artinya : Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia (Allah) mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang kafir, pelindung-pelindung mereka ialah syaitan (perilaku jahat dari manusia dan jin), yang mengeluarkan mereka cahaya (iman) kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Q.S. 2 Al Baqoroh : 257)
Keterangan : Kejahatan, kebrutalan, kezhaliman, kesadisan dan lain sebagainya adlah kelakuan manusia yang dipimpin oleh thaghut. Kata "thaghut" yang jamaknya "thiwaghiet", artinya : berhala. Sedangkan berhala itu ialah segala sesuatu yang lebih dicintai sampai mengalahkan cintanya kepada Allah dan Rasulullah S.A.W. Nah, pusat berhala itu ada pada hawa nafsu setiap orang. Orang yang menurut saja kepada kemauan hawa nafsunya, maka orang itu telah bertuhan kepada hawa nafsu, dan tidak bertuhan kepada Allah. Firman Allah :
اَفَرَاَيْتَ مَنِ التَّخَذَ اِلَهَهُ هَوَاهُ؟ (45 الجاثيه : 23)لا
Artinya : Maka pernahkah kamu (Muhammad) melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? (Q.S. 45 Al Jatsiyah : 23)
Padahal :
فَاعْلَمْ اَنَّهُ لَاالَهَ اِلَّااللهُ (47 محمد : 19)لا
Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tiada tidak ada Tuhan (yang wajib disembah/ditaati) melainkan Allah. (Q.S. 47 Muhammad : 19)
Maksudnya bahwa Tuhan yang wajib disembah/ditaati itu hanyalah Allah. Apa saja perintah Allah dikerjakan dan apa saja larangan Allah dijauhi.
Apabila doktrin "La Ilaha Illallah" itu telah menjiwai di hati dan lagi mantap, tidak ada ragu-ragu sedikitpun, maka akan muncul sifat yang konstruktip bagi orang yang bersangkutan. Orang itu suka berbuat yang baik-baik terhadap sesamanya dan terjaga lingkungannya. Hatinya merasa rugi dan merasa sis-sia hidup dengan mata terjaga tanpa ada perbuatan baik yang dilakukan. Sebab kesanalah ajaran "La Ilaha Illallah" membawa kepada kita. Hati merasa senang sekali apabila dapat ikut urun-urun bersama orang-orang saleh lainnya membangun dan memakmurkan dunia ini sebagaimana telah Allah amanatkan dengan Firman-Nya :
Artinya : Dia (Allah) telah menjadikan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya. (Q.S. 11 Hud : 61)
Diayat ini kita diberitahu bahwa kita dibuat dari bumi dan diperintahkan supaya membangun di bumi ini agar membuahkan kemakmuran bagi segenap penghuni bumi ini. Dan inilah ajaran "La Ilaha Illallah" membawa kita ke sana.
Akan menjadi lain apabila yang menjiwai kita itu "ilahahu hawahu" (tuhannya adalah hawa nafsu). Apabila tuhannya itu hawa nafsunya maka orang yang bersangkutan akan bersifat distruktip atau merusak. Mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan, perkelahian, perampokan, pembunuhan dan kezhaliman lainnya adalah akibat dari bertuhan kepada hawa nafsu. Firman Allah :
Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan manusia, supaya Allah mencicipkan kepada mereka sebahagian (akibat) dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar / jalan Allah. (Q.S. 30 Ar Rum : 41)
Keterangan : Dengan firman-Nya ini, Allah memberikan petunjuk supaya dimengerti oleh setiap insan yang masih hidup dimuka bumi ini, bahwa kehancuran di darat, di laut sampai pencemaran udara, semuanya itu adalah timbul dari akibat ulah tangan manusia yang bertuhan kepada hawa nafsu. Barangkali orang yang berbuat rusak itu adakalanya dari kebodohan terhadap aturan Allah lantaran memang hatinya tidak terisi ajaran agama Allah melainkan hanya otaknya yang dipenuhi dengan isi ilmu pengetahuan keduniaan semata. Tetapi mungkin juga salah arah, yakni niatan hatinya tidak segaris dengan ulahnya. Niatan hatinya bagus tetapi tidak dibarengi dengan ikhtiar yang bagus, sehingga hasilnya justru merusak, dan bukan membangun.
Apabila doktrin "La Ilaha Illallah" itu telah menjiwai di hati dan lagi mantap, tidak ada ragu-ragu sedikitpun, maka akan muncul sifat yang konstruktip bagi orang yang bersangkutan. Orang itu suka berbuat yang baik-baik terhadap sesamanya dan terjaga lingkungannya. Hatinya merasa rugi dan merasa sis-sia hidup dengan mata terjaga tanpa ada perbuatan baik yang dilakukan. Sebab kesanalah ajaran "La Ilaha Illallah" membawa kepada kita. Hati merasa senang sekali apabila dapat ikut urun-urun bersama orang-orang saleh lainnya membangun dan memakmurkan dunia ini sebagaimana telah Allah amanatkan dengan Firman-Nya :
هُوَاَنْثَأَكُمْ مِنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا (11 هود : 61)لا
Artinya : Dia (Allah) telah menjadikan kamu dari bumi dan menjadikan kamu sebagai pemakmurnya. (Q.S. 11 Hud : 61)
Diayat ini kita diberitahu bahwa kita dibuat dari bumi dan diperintahkan supaya membangun di bumi ini agar membuahkan kemakmuran bagi segenap penghuni bumi ini. Dan inilah ajaran "La Ilaha Illallah" membawa kita ke sana.
Akan menjadi lain apabila yang menjiwai kita itu "ilahahu hawahu" (tuhannya adalah hawa nafsu). Apabila tuhannya itu hawa nafsunya maka orang yang bersangkutan akan bersifat distruktip atau merusak. Mabuk-mabukan, perjudian, perzinaan, perkelahian, perampokan, pembunuhan dan kezhaliman lainnya adalah akibat dari bertuhan kepada hawa nafsu. Firman Allah :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِى عَمِلُوْالَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ (30 الروم : 41)لا
Artinya : Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena ulah tangan manusia, supaya Allah mencicipkan kepada mereka sebahagian (akibat) dari perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar / jalan Allah. (Q.S. 30 Ar Rum : 41)
Keterangan : Dengan firman-Nya ini, Allah memberikan petunjuk supaya dimengerti oleh setiap insan yang masih hidup dimuka bumi ini, bahwa kehancuran di darat, di laut sampai pencemaran udara, semuanya itu adalah timbul dari akibat ulah tangan manusia yang bertuhan kepada hawa nafsu. Barangkali orang yang berbuat rusak itu adakalanya dari kebodohan terhadap aturan Allah lantaran memang hatinya tidak terisi ajaran agama Allah melainkan hanya otaknya yang dipenuhi dengan isi ilmu pengetahuan keduniaan semata. Tetapi mungkin juga salah arah, yakni niatan hatinya tidak segaris dengan ulahnya. Niatan hatinya bagus tetapi tidak dibarengi dengan ikhtiar yang bagus, sehingga hasilnya justru merusak, dan bukan membangun.


